Dalam menjalani kehidupan, setiap orang kerap memiliki barang bekas yang tidak terpakai. Salah satunya gombal. Kain bekas tersebut ternyata dapat dikreasikan menjadi serba-serbi yang bisa memperindah dekorasi rumah.

Caranya, kain bekas tersebut dicampur dengan semen dan pasir. Dengan campuran tersebut, gombal bisa disulap menjadi barang kerajinan berupa pot bunga atau tanaman.

Seperti yang dilakukan Sentot (48), warga Desa Sepande RT 11 RW 03, Kecamatan Candi, Sidoarjo. Ia mampu membuat pot bunga yang unik menggunakan tiga bahan dasar tersebut. Yakni gombal, pasir dan semen.

Mantan tukang bangunan itu mengaku, pembuatan pot bunga daur ulang tersebut ia geluti dalam 3 bulan terakhir sejak mulai berkecimpung di bank sampah pada 2017. “Saya mengetahui pembuatan pot itu waktu masuk di bank sampah. Banyak teman-teman di sana yang membuat, tapi saya lihat kurang maksimal,” kata bapak dua anak itu Jumat (4/10/2019).

Oleh karena itu, dia terus berinovasi bagaimana caranya pot daur ulang tersebut terlihat lebih kokoh. Dalam proses pembuatannya, di tengah-tengah pot ia kasih kawat kecil melingkar agar pot menjadi lebih kuat dan tidak mudah pecah.

Bahan baku seperti kain bekas (gombal), ia dapatkan dengan mudah. Yakni dengan memberi tawaran satu karung kain bekas ditukar dengan satu pot bunga daur ulang. Tawaran tersebut disampaikan di Grup WhatsApp yang ia miliki.

“Kain bekas ini saya dapat dari teman-teman di Group WhatsApp,” tambah Sentot.

Cara pembuatannya, Sentot menerangkan, bahan baku berupa semen, pasir dan air dicampur menjadi satu ke dalam wadah. Setelah tercampur, kain bekas dimasukkan ke dalam campuran tersebut.

Kemudian setelah semuanya tercampur, gombal tersebut diangkat dan diletakkan di tatakan (media yang terbuat dari kayu). Kemudian ditata sedemikian rupa hingga menyerupai bentuk pot lengkap dengan lekuk kainnya.

“Sehari, dirinya mampu membuat sebanyak 15 pot bunga daur ulang. Satu pot bunga daur ulang yang kecil diameter 20 sentimeter, ia jual seharga Rp 15 ribu. Sedangkan yang besar, ia jual seharga Rp 50 ribu,” lanjut Sentot.

Pot daur ulang tersebut ternyata cukup diminati warga Probolinggo, Lamongan dan masyarakat dari luar kota lainnya. Penjualannya masih sebatas saya tawarkan di Grup WhatsApp dan media sosial lainnya.

“Dari ketekunan dan kesabaran membuat pot ini, setiap bulannya meraup keuntungan Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per bulan,” pungkas Sentot. (bdh/sun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here